Sejak lama saya ingin sekali menulis kisah ini tapi rasanya malas sekali. Baiklah … sebelum saya lupa detail ceritanya, saya akan mulai menulis sekarang
Kisah ini sangat inspiratif, hoho setidaknya menurut saya karena dialami oleh teman saya sendiri. Teman-teman yang hebat, sabar, dan tak patah semangat.
Ketika itu, ketiga teman saya, dua laki-laki dan satu perempuan sedang mempersiapkan proposal mereka untuk diikutsertakan dalam PKM. Tidak banyak waktu yang mereka punya untuk mempersiapkan proposal itu. Hampir setiap hari mereka bertemu, berdiskusi, dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing untuk menyempurnakan proposal mereka. Mereka mengorbankan banyak hal, mengorbankan materi, mengurangi waktu tidur, mengurangi waktu untuk bermain. Mereka begitu bersemangat. Namun, ada beberapa kendala sehingga proposal mereka tak terkirim ke dikti dan tentu saja tidak bisa diseleksi.
“Ini lebih nyesek dibanding aku dapet pengumuman proposalnya ga lolos seleksi. Setidaknya kalah karena ga lolos seleksi, ini dikirim aja engga apalagi diseleksi” begitu kira-kira apa yang temanku katakan padaku. Aku tau pasti ada rasa kesal, kecewa, lelah, marah. Betapa tidak, mereka telah bekerja keras.
Aku hanya bisa bilang ‘sabar, ikhlas, ada hikmahnya, Allah punya rencana lain barangkali’
Beberapa hari dari itu, temanku ini meminta doa karena proposal PKM yang ‘tak terkirim’ itu mereka ikut sertakan pada lomba karya tulis di Semarang.
“Doakan supaya lolos seleksi ya” katanya
Kemudian aku mendapat kabar lagi bahwa mereka lolos seleksi. Proposal mereka adalah salah satu dari 15 karya tulis yang lolos seleksi. Lomba ini sudah taraf nasional. Aku merinding dan mengucapkan Alhamdulillah.
Ketika di semarang, kata temanku, mereka bertiga sangat sibuk. Masih banyak yang harus dipersiapkan. H-1 presentasi, mereka masih berkeliling kota semarang untuk membuat banner tetapi pada akhirnya banner itu tak jadi dibuat karena tidak begitu diperlukan. Pada hari presentasi, mereka melihat peserta lain begitu baik mempresentasikan karya tulisnya. Mereka sedikit minder dan takut.
Aku datang ke kamar kos temanku yang perempuan itu ketika ia sudah kembali dari semarang. Sejujurnya ketika itu aku sudah lupa soal lombanya. Kemudian temanku, menunjukan kertas ukuran A3 yang bertuliskan “Juara 2, Rp 2000.000,-“. Hanya tulisan itu yang aku ingat, selebihnya aku tak tau apa yang tercetak dalam kertas itu.
Subhanallah, mereka menang!
Sungguh, betapun indahnya rencana kita masih jauh lebih indah rencana Allah
Allah tak bilang ‘iya’ ketika mereka meminta, tetapi Allah menangguhkan dan menggantinya dengan yang lebih baik.
Dan inilah buah kerja keras, kesabaran, dan optimisme kalian teman2
Selamat :)